Saat ini es kepal milo tengah menjadi tren baru
di kalangan anak muda. Banyak pelaku bisnis yang melihat peluang tersebut dan
memanfaatkannya menjadi lahan bisnis baru. Salah satunya, Triana (22), penjual
es kepal milo “man” di Pasar Modern Paramount, Gading Serpong.
Ia mengaku dalam sehari bisa menjual delapan
puluh sampai seratus cup di hari
biasa dan di akhir minggu seratus hingga seratus lima puluh cup. Satu wadahnya dijual dengan harga
Rp 15 ribu.
“Di awal buka tuh sehari bisa untung Rp 600
ribu, dalam sebulan pendapatannya kira-kira Rp 18 juta. Tapi itu awal-awal buka ya,
sekarang kan sejak es kepal milo viral, banyak yang jualan juga,”jelasnya.
Semenjak itu penjualan es kepal milo “man” menurun,
hari biasa terjual dari lima puluh sampai delapan puluh cup, dan di akhir minggu mencapai seratus cup. Dalam mengatasi hal ini, Triana menerapkan beberapa cara untuk
menarik perhatian konsumen.
“Saya selalu menyediakan varian topping terbaru
yang pesaing tidak jual setiap harinya. Misalnya topping marshmallow di
tempat lain tidak ada, di kita ada. Selain itu, saya juga selalu ingat wajah
atau orang yang beli, kalo seandainya dia sering datang, saya suka kasih topping gratis biar dia senang, mau beli
lagi disini,”ungkapnya.
Selain es kepal milo, thai tea sempat menjadi viral di masyarakat. Setelah banyaknya
jenis minuman pesaing lainnya, thai tea
pun mengalami penurunan penjualan.
.
“Dalam sehari bisa habis hingga tiga puluh cup di hari biasa dan di akhir minggu
bisa seratus cup lebih, jadi seminggu
keuntungannya kira-kira Rp 7 juta,”kata Chandra, salah satu pegawai Dum Dum Thai Tea, Summarecon Digital
Serpong.
Lanjut Chandra, saat thai tea masih menjadi tren di media sosial, dalam sehari bisa terjual
hingga ratusan cup dan itu dijual di hari biasa.
“Sekarang mah harus pinter-pinter melihat peluang, dulu keuntungan per minggu bisa
puluhan juta sekarang agak turun ya,”lanjutnya.
No comments:
Post a Comment